Kedudukan PSSI, Pemerintah dan FIFA

Kedudukan PSSI, Pemerintah dan FIFA

REP | 10 February 2013 | 12:28 Dibaca: 1969   Komentar: 0   4 aktual
13604739541510042220
Menjawab kerisauan seorang kompasianer, yang terlihat sangat gamang dan kecil hati dengan begitu maraknya celotehan para penghujat dan pemberontak sepakbola Indonesia yang tercermin ditulisan maupun komentar  yang tertebar diseluruh kolom dan dashboard.
Namun semua itu hanyaah tulisan dan jeritan orang orang yang kehilangan arah dan jalan mau menuju kemana dan mengarah ketujuan yang mana, yang akhirnya kebingungan sendiri, hanya ingin mempertahankan posisi dan pandangannya agar tetap established.
namun kebenaran dan kenyataan memiliki jalannya sendiri untuk selalu diwaspadai setiap insan, agar terus bisa survive mengikuti perubahan yang ada mengiringi setiap perubahan zamannya. seperti yang ditulis oleh rekan kita kompasianer Edwi Yanto, dengan judul ” Jurus Roy Suryo usulkan Federasi Baru ke FIFA dan AFC “.
Maka setelah saya memberi komentar, agaknya memang perlu diangkat menjadi satu artikel, sepeti yang akan saya uraikan tanggapan saya dibawah ini
Saya rasa syah syah saja mempunyai keinginan apapun, namun semua terbentur dengan keadaan yang ada.
Sering orang salah melihat dan menilai, seolah FIFA adalah lembaga yang terbentuk jatuh dari langit. Bahwa FIFA adalah Organisasi sepakbola yang didirikan dan secara kolektip dimiliki oleh segenap dan seluruh anggota FIFA yang terdiri dari Asosiasi sepakbola, Federasi, dan confederasi sepakbola dari seluruh dunia.
Yang memiliki kontribusi dan tekad yang sama dari seluruh anggota yang disusun kedalam suatu induk aturan yg disebut STATUTA FIFA. Serta diatur dan disusun suatu Organisasi manajemen dengan bentuk seperti yang ada sekarang ini. dilandasi oleh Kode etik dan mekanisme yang transparan.
Dari waktu kewaktu mengalami perubahan dan perbaikan terus menerus, mengikuti perubahan zamannya.
PSSI bukan hanya sekedar Anggota, tetapi juga penopang dan pendukung seluruh keputusan dan sepak terjang FIFA seperti halnya Anggota2 federasi sepakbola lainnya.
Jadi penegakan statuta adalah kehendak seluruh anggota FIFA termasuk Indonesia/PSSI, dalam rangka menjaga Sepakbola tetap ada direl yang sesuai dengan tujuan dan maksud FIFA didirikan.
FIFA memiliki struktur pengambilan keputusan yang berjenjang yang taat asas kepada mekanisme yang sudah diatur didalam Statuta FIFA,
Perubahan nama dari tiap anggota diserahkan kepada anggota itu sendiri berdasarkan atas AD/ART organisasi federasi masing2, yang tentu tidak keluar dari rel Statuta FIFA/AFC/PSSI.
Satu federasi untuk satu negara, itu sudah menjadi aksioma dan aturan dasar bagi FIFA, dan setiap anggota memiliki badan hukum yang syah dimasing2 negara yang berdiri independen terhadap pemerintahan negara dan juga memiliki otoritas mengatur rumah tangganya sendiri sesuai Statuta.
Keinginan Pemerintah untuk mengganti nama saja, itu bukan upaya syah dan tak memiliki kekuatan hukum yang cukup, sekalipun FIFA dan sidang exco memutuskannya, karena tidak mungkin dilakukan karena menyalahi STATUTA FIFA, bahwa setiap anggota federasi memiliki otoritas yang tidak bisa diganggu gugat, selama berjalan sesuai statuta yang ada.
Setiap kesalahan menerapkan aturan sekalipun dilakukan oleh FIFA dan juga oleh Sidang Exco, kalau menyalahi statuta yang ada, maka asosiasi /federasi bisa mengajukan keberatan dan mengajukan gugatan ke pengadilan olahraga CAS.
Setiap keputusan CAS, merupakan keputusan yang harus dilaksanakan oleh FIFA, wajib mencabut kembali keputusan yang telah diambilnya.
Organisasi sepakbola diluar PSSI, jelas tidak akan pernah disetujui FIFA, terkait dengan aturan hukum International dan mengacu kepada Statuta FIFA.
Organisasi sepakbola sempalan dimanapun banyak tumbuh termasuk di Indonesia, sudah beberapa kali terdengar adanya asosiasi sempalan yang mewakili Papua Barat, Maluku selatan, bahkan zaman PKI dulu juga pernah ada.
Namun didalam sejarahnya ternyata PSSI tidak pernah tergantikan hingga kini, dan tak pernah ada double organisasi, atau dualisme organisasi. di FIFA dari berdiri hingga sampai kapanpun tak pernah mengenali Organisasi tandingan atau dualisme organisasi.
Diubek ubek dipaksa paksa juga tak pernah ada, PSSI tidak pernah dilihat FIFA dan seluruh anggotanya, adanya dualisme organisasi.
Hanya orang yang nafsu dan bodoh memaksakan kehendak, seolah dunia melihat PSSI terbelah dan ada dualisme.
Oleh karena itu tak usahlah dianggap sebagai masalah besar, dan membuat kita berkecil hati, mereka tidak sebesar dan sekuat kekuasaan bayangannya, hanya gambaran saja dan macan kertas yang tak ada pengaruhnya apa apa.
Mereka seolah besar dan mampu berbuat apa saja, hanya karena post power syndroma, yang tak ada dasarnya.
Sisa sisa merasa masih seperti zaman Orde Baru, padahal tak ada sejarahnya Suharto bisa mengatur FIFA.
Jangan terkecoh, Seolah Mereka bisa membalikkan dunia.
Demikianlah tanggapan saya, yang mungkin hanya sedikit informasi yang barangkali masih perlu pendalaman dan banyak rekan2 yang lebih tahu dan ahli dalam hal ini, sehingga mampu memberikan pencerahan yang perlu diketahui, agar tidak memikirkan hal hal yang tak ada, dan cenderung mengada ada
Hidup kita semua ada logikanya yang sehat dan sesuai dengan hukum2 alam dan hukum hukum Tuhan yang tak bisa begitu saja dilampaui.
.
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !
.
Jakarta, 10 Pebruari 2013
.
Zen Muttaqin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar