Kedudukan PSSI, Pemerintah dan FIFA
REP | 10 February 2013 | 12:28
Menjawab
kerisauan seorang kompasianer, yang terlihat sangat gamang dan kecil
hati dengan begitu maraknya celotehan para penghujat dan pemberontak
sepakbola Indonesia yang tercermin ditulisan maupun komentar yang
tertebar diseluruh kolom dan dashboard.
Namun semua
itu hanyaah tulisan dan jeritan orang orang yang kehilangan arah dan
jalan mau menuju kemana dan mengarah ketujuan yang mana, yang akhirnya
kebingungan sendiri, hanya ingin mempertahankan posisi dan pandangannya
agar tetap established.
namun
kebenaran dan kenyataan memiliki jalannya sendiri untuk selalu
diwaspadai setiap insan, agar terus bisa survive mengikuti perubahan
yang ada mengiringi setiap perubahan zamannya. seperti yang ditulis oleh
rekan kita kompasianer Edwi Yanto, dengan judul ” Jurus Roy Suryo usulkan Federasi Baru ke FIFA dan AFC “.
Maka setelah
saya memberi komentar, agaknya memang perlu diangkat menjadi satu
artikel, sepeti yang akan saya uraikan tanggapan saya dibawah ini
Saya rasa syah syah saja mempunyai keinginan apapun, namun semua terbentur dengan keadaan yang ada.
Sering orang
salah melihat dan menilai, seolah FIFA adalah lembaga yang terbentuk
jatuh dari langit. Bahwa FIFA adalah Organisasi sepakbola yang didirikan
dan secara kolektip dimiliki oleh segenap dan seluruh anggota FIFA yang
terdiri dari Asosiasi sepakbola, Federasi, dan confederasi sepakbola
dari seluruh dunia.
Yang
memiliki kontribusi dan tekad yang sama dari seluruh anggota yang
disusun kedalam suatu induk aturan yg disebut STATUTA FIFA. Serta diatur
dan disusun suatu Organisasi manajemen dengan bentuk seperti yang ada
sekarang ini. dilandasi oleh Kode etik dan mekanisme yang transparan.
Dari waktu kewaktu mengalami perubahan dan perbaikan terus menerus, mengikuti perubahan zamannya.
PSSI bukan hanya sekedar Anggota, tetapi juga penopang dan pendukung seluruh keputusan dan sepak terjang FIFA seperti halnya Anggota2 federasi sepakbola lainnya.
PSSI bukan hanya sekedar Anggota, tetapi juga penopang dan pendukung seluruh keputusan dan sepak terjang FIFA seperti halnya Anggota2 federasi sepakbola lainnya.
Jadi
penegakan statuta adalah kehendak seluruh anggota FIFA termasuk
Indonesia/PSSI, dalam rangka menjaga Sepakbola tetap ada direl yang
sesuai dengan tujuan dan maksud FIFA didirikan.
FIFA
memiliki struktur pengambilan keputusan yang berjenjang yang taat asas
kepada mekanisme yang sudah diatur didalam Statuta FIFA,
Perubahan
nama dari tiap anggota diserahkan kepada anggota itu sendiri berdasarkan
atas AD/ART organisasi federasi masing2, yang tentu tidak keluar dari
rel Statuta FIFA/AFC/PSSI.
Satu
federasi untuk satu negara, itu sudah menjadi aksioma dan aturan dasar
bagi FIFA, dan setiap anggota memiliki badan hukum yang syah dimasing2
negara yang berdiri independen terhadap pemerintahan negara dan juga
memiliki otoritas mengatur rumah tangganya sendiri sesuai Statuta.
Keinginan
Pemerintah untuk mengganti nama saja, itu bukan upaya syah dan tak
memiliki kekuatan hukum yang cukup, sekalipun FIFA dan sidang exco
memutuskannya, karena tidak mungkin dilakukan karena menyalahi STATUTA
FIFA, bahwa setiap anggota federasi memiliki otoritas yang tidak bisa
diganggu gugat, selama berjalan sesuai statuta yang ada.
Setiap
kesalahan menerapkan aturan sekalipun dilakukan oleh FIFA dan juga oleh
Sidang Exco, kalau menyalahi statuta yang ada, maka asosiasi /federasi
bisa mengajukan keberatan dan mengajukan gugatan ke pengadilan olahraga
CAS.
Setiap
keputusan CAS, merupakan keputusan yang harus dilaksanakan oleh FIFA,
wajib mencabut kembali keputusan yang telah diambilnya.
Organisasi
sepakbola diluar PSSI, jelas tidak akan pernah disetujui FIFA, terkait
dengan aturan hukum International dan mengacu kepada Statuta FIFA.
Organisasi
sepakbola sempalan dimanapun banyak tumbuh termasuk di Indonesia, sudah
beberapa kali terdengar adanya asosiasi sempalan yang mewakili Papua
Barat, Maluku selatan, bahkan zaman PKI dulu juga pernah ada.
Namun
didalam sejarahnya ternyata PSSI tidak pernah tergantikan hingga kini,
dan tak pernah ada double organisasi, atau dualisme organisasi. di FIFA
dari berdiri hingga sampai kapanpun tak pernah mengenali Organisasi
tandingan atau dualisme organisasi.
Diubek
ubek dipaksa paksa juga tak pernah ada, PSSI tidak pernah dilihat FIFA
dan seluruh anggotanya, adanya dualisme organisasi.
Hanya orang yang nafsu dan bodoh memaksakan kehendak, seolah dunia melihat PSSI terbelah dan ada dualisme.
Oleh karena
itu tak usahlah dianggap sebagai masalah besar, dan membuat kita
berkecil hati, mereka tidak sebesar dan sekuat kekuasaan bayangannya,
hanya gambaran saja dan macan kertas yang tak ada pengaruhnya apa apa.
Mereka seolah besar dan mampu berbuat apa saja, hanya karena post power syndroma, yang tak ada dasarnya.
Sisa sisa merasa masih seperti zaman Orde Baru, padahal tak ada sejarahnya Suharto bisa mengatur FIFA.
Jangan terkecoh, Seolah Mereka bisa membalikkan dunia.
Demikianlah
tanggapan saya, yang mungkin hanya sedikit informasi yang barangkali
masih perlu pendalaman dan banyak rekan2 yang lebih tahu dan ahli dalam
hal ini, sehingga mampu memberikan pencerahan yang perlu diketahui, agar
tidak memikirkan hal hal yang tak ada, dan cenderung mengada ada
Hidup
kita semua ada logikanya yang sehat dan sesuai dengan hukum2 alam dan
hukum hukum Tuhan yang tak bisa begitu saja dilampaui.
.
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !
.
Jakarta, 10 Pebruari 2013
.
Zen Muttaqin






0 komentar:
Posting Komentar