radovic ke bandung raya


     
  Didirikan Nirwan Dermawan Bakrie pada 1986, Pelita Jaya usung cita-cita mulia sepakbola Indonesia. Sederet Prestasi langsung ditorehkan di awal kehadirannya. Nama Pelita Jaya dipilih untuk mewakili harapan besar bagi sepakbola Indonesia di masa datang.
Pemilihan nama Pelita diharapkan mampu menjadikan klub yang ber-homeground di Kampung Petir, Depok Sawangan ini sebagai klub yang dinamis, luwes, bersahabat, dan menjunjung nilai fair play sebagaimana yang dimaksud Laws of The Game FIFA. Sementara nama Jaya dipilih dengan harapan dapat berprestasi baik di dalam negeri dan luar negeri demi mengharumkan sepakbola Indonesia.
 
       
    Hadir pada masa kompetisi sepakbola Indonesia bernama Galatama (1986-1992), Pelita Jaya yang menunjuk Bertje Matulapelwa sebagai Kepala Pelatih langsung mengantarkan gelar runner-up di musim perdananya itu.  
         
  Di musim keduanya, 1987/1988, kepemimpinan Rahim Soekasah yang dibantu tim manajer Andrie Amin menempatkan Pelita Jaya sebagai klub yang disegani. Diarsiteki Benny Dollo sebagai Kepala Pelatih yang diganti Selimir Milosevic (Yugoslavia) pada musim berikutnya, serta ditopang Mundari Karya dan Abdullah Husein di posisi asisten pelatih, Pelita Jaya sukses merebut gelar juara Galatama 2 kali berturut-turut, 1987/1988 dan 1988/1989.    
               
   
  Prestasi Pelita makin mengkilap pada musim berikutnya. Pada 1990, Pelita Jaya masuk 4 besar dan lolos babak kualifikasi mewakili negara-negara Asia Tenggara dalam Kejuaraan ASEAN. Di musim yang sama, 1989/1990, Pelita Jaya pun menjadi Runner-Up Turnamen Piala Utama PSSI-PWI yang diikuti peserta kompetisi Galatama dan Perserikatan. Pada 2 musim berikutnya, 1991/1992, Pelita Jaya keluar sebagai juara di ajang itu.
Selain sarat prestasi, Pelita Jaya juga dikenal sebagai klub yang banyak mendatangkan pemain kelas dunia. Pada musim 1991/1992, setelah menjadi Semi Finalis Piala Champion Asia, Pelita Jaya sukses datangkan penyerang asal Yugoslavia, Dejan Gluscevic yang kembali pada 1995 setelah sempat dipinjamkan ke klub Bandung Raya dan sukses menyabet gelar Top Scorer.
 
               
    Setelah nama Gluscevic, pada 1996 manajemen Pelita Jaya memboyong Top Scorer Piala Dunia 1978 asal Argentina, Mario Kempes. Mejabat sebagai pemain sekaligus asisten pelatih, Kempes bukan jadi pemain kelas dunia satu-satunya di Pelita Jaya, ada juga nama Roger Milla (Kamerun) dan Maboang Kessack (Kamerun) yang juga direkrut pada musim itu.  
               
  Pada 1999/2000, Pelita Jaya terpaksa mengungsi dari Stadion Lebak Bulus, Jakarta ke Stadion Manahan, Solo. Hal itu terjadi setelah ada larangan menggunakan Stadion Lebak Bulus, Jakarta, sebagai homebase. Pindah ke Solo, nama Pelita Jaya berubah jadi Pelita Jaya Solo. Sayang, Pelita Jaya Solo yang saat itu bermain di level Divisi I Liga Indonesia, hanya bertahan 3 musim hingga 2001/2002.
Pada musim 2002/2003, manajemen Pelita Jaya kembali mengubah nama jadi Pelita Jaya Krakatau Steel yang disesuaikan dengan homebase-nya, Stadion Krakatau Steel, Cilegon karena adanya proses merger.
 
               
  Namun, Pelita Jaya tidak bertahan lama di Cilegon dan hijarah ke Purwakarta yang mengubah namanya jadi Pelita Jaya Purwakarta dan ber-homebase di Stadion Purnawarman, Purwakarta. Di bawah asuhan Bambang Nurdiansyah dan Safrudin Pabanyo, Pelita Jaya Purwakarta sukses mendapat tiket promosi ke Liga Super Indonesia pada 2006/2007.    
               
    Sadar persaingan makin berat dan ketat dalam mengarungi Liga Super Indonesia, pada akhir 2006, manajemen Pelita merombak susunan official team. Fandi Ahmad (Singapura) diplot sebagai Kepala Pelatih yang dibantu Kadir Yahaya (Singapura) dan Ardjuna Rinaldy sebagai anggota tim asisten pelatih.  
               
  Dua musim berkancah di ajang Liga Super Indonesia (2008/2009–2009/2010), Pelita Jaya sempat ber-homebase di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Soreang Bandung selama 1 musim sebelum menetapkan Stadion Singaperbangsa, Karawang, sebagai homebase-nya yang bertahan hingga saat ini.
Kini, memasuki era industri, Pelita Jaya yang berada di bawah pengelolaan PT. Nirwana Pelita Jaya berganti nama lagi jadi "Pelita Jaya Football Club" (FC). Pelita Jaya sebagai satu dari sedikit tim di Indonesia yang dikelola secara professional, terlihat dari pengelolaan manajemen independen secara finansial yang hingga ISL 2011/12 tercatat telah berhasil menarik beberapa sponsor berkelas lokal maupun internasional.
 
     
  Di ranah Liga Super Indonesia, prestasi tim senior Pelita Jaya tak sebaik era Galatama. Namun, tim yunior mereka, Pelita Jaya U-21, terus memberikan prestasi yang membanggakan. Tercatat, pada 2 musim awal digelarnya Liga Super Indonesia U-21, Pelita Jaya U-21 yang diasuh Kepala Pelatih Djajang Nurdjaman dan Ronny Remon serta Gatot Prasetyo di posisi asisten pelatih, sukses merengkuh gelar Juara dan Runner-Up.    
     
  Bicara tim sepakbola, tak lengkap jika tidak bicara julukannya. Untuk Pelita Jaya, julukan yang melekat adalah “The Young Guns”. Julukan itu sendiri lahir pada akhir 2007 yang bermula pada sebuah artikel di media cetak . The Young Guns adalah julukan yang diberikan sang wartawan media itu kepada Pelita Jaya yang akhirnya disepakati dan diadopsi manajemen sebagai julukan resmi Pelita Jaya.  
               
    Pada 2010, manajemen Pelita Jaya merekrut Kepala Pelatih anyar asal Serbia, Miodrag 'Misha' Radovic. Dibantu tim asisten pelatih Djadjang Nurdjaman, I Made Pasek Wijaya, dan Ardjuna Rinaldy, perjuangan Pelita Jaya pada musim itu berakhir di peringkat 12 pada klasemen Liga Super Indonesia 2010/2011.  
               
  Berdasarkan hasil evaluasi Direksi dan Manajemen yang rutin dilaksanakan tiap semester, Pelita Jaya memutuskan untuk merekrut Rahmad Darmawan sebagai Kepala Pelatih dengan tim Asisten Pelatih beranggotakan: Djadjang Nurdjaman, Satya Bagja, I Made Pasek Wijaya dan Ardjuna Rinaldy yang dipercaya untuk dapat membawa tim senior Pelita Jaya FC mencapai targetnya menduduki Papan Atas Klasemen dalam Liga Super Indonesia musim 2011 – 2012.  
               
  Head Coaches:
Bertje Matulapelwa (1986)
Benny Dolo (1987)
Selimir Milosevic (1989 – 1990)
Bambang Nurdiansyah (2000 – 2005)
Fandi Ahmad (2006 – 2009)
Djadjang Nurdjaman (2009 – 2010)
Miodrag ‘Misha’ Radovic (2010 – 2011)
Rahmad Darmawan (2011 – sekarang)
 
               
  Stadiums:
1986
1987 – 1998
1999 – 2001
2002 – 2004
2006 – 2007
2008 – 2009
2009 – sekarang

Supporters:
1986 – 1998
1999 – 2001
2005 – 2007
2010 – sekarang


Stadion Senayan, Jakarta
Stadion Menteng, Jakarta Pusat
Stadion Lebak Bulus, Jakarta
Stadion Manahan, Solo
Stadion Krakatau Steel Cilegon, Jawa Barat
Stadion Purnawarman, Purwakarta Jawa Barat
Stadion Si Jalakharupat, Kab. Soreang Bandung
Stadion Singaperbangsa, Karawang


The Commandos
Pasopati
Garda Purwa
P-Man (Pelita Mania)
 
   

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar